Sebuah buku biologi

Mukti namanya. Seorang siswa kelas 3 IPA V, matanya biru dengan tinggi badan 165 cm. Semua siswa di SMA terpesona akan kelihaaiannya dalam main gitar. Apalagi dia seorang indo-Belanda. Ketika istirahat tiba, dia selalu jadi bahan pembicaraan ketika nongkrong di kantin. Ratu Issabela temenku menyebutnya, maklum dia juga ahli dalam pementasan drama sekolah. Pokoknya dia serba perfectlah.

“ Aku ingin masuk FK wan “ ujarnya padaku saat satu Bis secara tidak sengaja.” Kamu rencana kemana ?”

Aku diam tak sadar kalau dia bertanya padaku.

“ wan! Apa kamu dengar pertanyaanku?” Tanyanya sedikit marah.

Sorry Muk, apa tadi pertanyaannya?”

“ Ya ampun. Berarti dari tadi kamu tidak mendengarkan aku ngomong dong?”

engga! Mendengarkan,,,,serius” Sambungku. Tidak tahu kenapa akhir-akhir ini aku sering tidak konsen. Apalagi dengan seorang pujaan hati.

“ Mendingan masuk FK unpad aja!” lirihku sekena-kenanya.

“ Iyakan! kamu memang engga ngedengerin aku ngomong” nada kecewa terlontar dari mulutnya.

“ Kalau begitu, bisa di ulangi pertanyaannya?”

“ Baiklah” matanya sanbil melihat pemandangan sungai Cikapundung,. Entah kenapa sungai ini jadi pemandangan seluruh penumpang Bis. Tidak tahu kenapa! Mungkin karena sungainya yang tak terawat, atau memang tempat ini tempat yang paling enak di lihat sepanjang Leuwipanjang-Dago.” Sudah lulus SMA kamu mau kuliah mana?”

Pertanyaan itu bagiku terlalu susah untuk di jawab. Mungkin karena aku tak pernah memikirkan masa depan, atau aku seperti anak kecil tak punya rencana.

“ ya, aku belum memikirkan” Jawabku dingin” Kamu ?”

“ Aku mau Masuk FK”

“ FK teh apaan?”

“ Oh my god,,FK ! kedokteran. Bukankah FK sudah menjadi bahasa lumrah kaya HI, FIKOM”

“ nge-test!”

Kurang ajar loh

“ FK mana?”

Pinginnya UI Salemba” Ujarnya penuh semangat “ kata kakekku masa muda itu singkat. Jadi kita harus menjelajah semuanya. Sepanjang masih ada kesempatan kita coba”

“ Wah! Hebat. Cita-cita kamu itu sebenarnya ingin jadi dokter atau seniman sih?”

“ Dua-duanya…hehe” Dia tesenyum simpul, karena pertanyaan konyolku”Aku ingin jadi dokter, tapi bisa nyiptakan lagu, nulis scrif film. Yang jelas aku tak ingin di preteli oleh keadaan. Maknya aku selalu ingat pesan kakekku”

“ Ya,,udahlah kalau untuk mukti pasti semuanya bisa”

***

Bell sekolah berdering tanda berakhirnya seluruh kegiatan belajar mengajar. Tadi pada jam pelajaran sekolah aku menitip pesan pada Rani temen sebangku Mukti. Ran Tolong sampaikan pada Mukti, selesai sekolah aku tunggu di belakang sekolah dekat kantin. Penting!! Meski aku harus mengeluarkan uang untuk Rani yang konon katanya dana transport.

Di bangku kantin aku duduk dengan berjuta rasa. Aku bertekad hari ini aku akan mengungkapkan sesuatu pada pujaan hati ku. Pokoknya bagaimana pun aku harus meringankan beban di kepala. Soal diterima dan tidaknya itu tergantung dia.

Waktu menunjukan pukul 14.00 wib, mukti belum juga datang. Bidadariku belum juga datang, rasa kecewa mulai hinggap di kepala. Sejam sudah aku menunggu, seekor semut merah berbaris dingding menatap ku curiga; seakan bertanya tentang penantian lama.

***

Setahun sudah aku lulus dari SMA. Hampir semua teman-teman sekelasku kuliah. Mereka di terima di Universitas-universitas terkemuka; UI, ITB, UGM, ITS bahkan ada yang di luar negri. Sementara aku hanya jadi seorang pekerja di salah satu pabrik Telekomunikasi di Bandung. Bagiku mereka semua telah merencanakan hidup yang matang dan terarah.

Setiap sore aku habiskan waktu untuk membaca novel. Tidak tahu kapan pertama kali aku suka novel, yang jelas Mukti dulu pernah memperkenalkan davinci code karya dan brown. Sampai hari ini novel itu masih aku pegang.

“ Buat kamu aja! Hadiah dari seorang sahabat” Sahutnya di sela-sela upacara perpisahan.

Kini dia jadi mahasiswi UI Fakultas Kedokteran. Beberapa minggu setelah kelulusan dia memberi kabar bahwa dia keterima jalur SPMB. Syukurlah diantara temenku ada yang menjadi Dokter. Semoga jadi dokter yang bermanfaat bagi saudara-saudara yang membutuhkan.

Hari ini sabtu seperti biasa, aku pasti mengunjungi Toko Buku Gramedia. Bukan ingin membeli buku tapi hanya sekedar melihat novel baru atau melihat-lihat barangkalai mahasiswi ITB,UNPAD, UPI, UIN sedang mencari-cari buku. Ya! Buat cuci mata seminggu sekali.

Aku menggunakan jasa Angkutan umum untuk pergi ke Toko Buku itu,. Jarak dari tempat kerja ke Toko buku itu lumayan jauh. Tempat kerjaku di daerah Tegalega; sebelah selatan Lapngan sepak bola samping Gedung PASKHAS SILIWANGI.

Nyanyian jalanan hinggap di telingaku, meronta-ronta seolah-olah mengharap recehan yang tersimpan di balik saku orang-orang berdasi. BUKTIKANLAH PADA DUNIA BAHWA KITA MAMPU, Suaranya melengking diiringi petikan gitar dan tabuhan drum tanpa snare, hit-hat,Chinese dan cymbal.

Sebuah angkot melintas didepanku bertuliskan KELAPA-DAGO. Aku duduk tepat di belakang supir angkot berbibir asap dengan rokok di tangan; mulutnya tak henti-henti komat-kamit mengutuk-ngutuk dirinya.

“ Pusing….pusing nyari duit, aduhhh” Suaranya seperti gonggongan anjng lapar. Semua penumpang merasa tak nyaman, memang sich! Cuaca panas seperti ini paling boring kalau mendengarkan kata-kata kotor di tambah macet tidak ada senyuman hanya serpahan kata yang melukai hati.

Angkot masih melaju. Volume kendaraan hari sabtu biasa tak seperti biasa, karena banyak mobil luar kota, seperti sudah menjadi hal biasa Weekend tujuan semua orang, sedangkan Bandung tempat paling cocok. Apalagi koeksi makanan bandung lebih banyak di banding kota-kota lainnya, begitulah kata slah seorang teman dari Jakarta.

Welcome Toko buku Gramedia

Seorang Satpam memeriksa tasku, dengan alat pendeteksi laser. Kalau di perhatikan alat pendeteksi itu seperti mainan anak-anak yang biasa di jual di emperan jalan. Satpam itu tersenyum ramah padaku seraya berkata

“ Selamat berbelanja, semoga anda puas”

Lantai dua sarana buku best seller, novel mendominasi di antara buku-buku best seller. Buku kanan biasanya lebih banyak di sukai orang dari pada golongan kiri. Makanya tak ada cerita Buku matematika memecahkan rekor seratus ribu kopi.

Setiap tahun dekorasi dan tata letak buku ini selalu berubah-rubah. Sehingga pengunjung merasakan nyaman dan tidak bosan. Benar kata orang hudup tanpa inovasi kehancuran yang di tunggu. Sebuah perusahaan besar akan mampu bertahan jika menciptakan perubahan produk, limit edition dan konsep inovasi sudah ada diantara semuanya.

Para pengunjung terlihat menikmati sajian buku kanan yang berjejer di deretan buku Hobby. Teringat dua tahun yang lalu ketika aku membeli slah satu novel dengan Mukti. Kami mengomentari setiap tema cerita yang tertulis di sampul belakang novel. Apalagi kalau judulnya tema tema cinta basi yang tak pernah menyeluruh mendefunisikan cinta itu sendiri. Ya!masa lalu terkadang terlalu naïf untuk di lupakan.

Aku mendekati buku Religi. Buku-buku Said Alqorni, Yusup alqordowi berada di barisan terdepan. Aku hanya membulak-balikan saja lalu aku mendekati buku-buku olahraga. Seseorang tersenyum padaku dan mendekat. Sepertinya aku hapal orang itu. Menggunakan Jilbab mengenakan baju al-mamater warna kuning. Setelah sekian dekatnya.

“ Hai, pa kabar! “ Ujarnya “ masih ingat”

Senyumnya tak pernah lupa dari memoriku. Dialah pernah hadir di hati. Dia pernah aku tunggu di belakang kelas samping kantin. Dial ah yang melukai hatiku. Tak kutunggu dia datang, mungkinkah dia akan jadi miliku. Atau diaa hanya singgah dan berlalu seperti angin dalam tragedy tsunami.

“ Baik. Kamu gimana Muk?” sapaku

“ Alhamdulilah. Aku baru pulang dari Jakarta” lirihnya gembira “ Wan, maafin aku ya!”

“ Maafin kenapa? Apa aku pernah punya dosa”

“ Aku tak menemui kamu di belakang sekolah”

“ Aku sudah lupa muk,,hehe” aku kaget dengan suara yang keluar dari mulut mukti.Dadulu aku kecewa-sakit hati. Tapi aku sudah lupa, tapi dia masih mengingatnya. Sepertinya utaian katanya telah menggoresi lagi. “ Lupakan saja! kamu memang wanita sempurna yang pernah aku kenal ”

Hati ini mengebuk-gebuk. Mungkinkah harapan itu bersinar kembali.

“ Memangnya dulu ada apa sich, mesti janjian di belakang kelas”

Omongannya seperti halilintar di musim panas. Menjerit, menggema dan menusuk angan.

“ Juju aja! Muk,,telah lama aku menanti. Mendambakan sesuatu sejak dua tahun lalu” Ujarku “ Sebenarnya aku suk…”

“ Muk! Ini buku bagus “ Suara seorang laki-laki dari belakangku.

“ Buku apaan”

“ Anatomi katak” Ujarnya meyakinkan

“ Oh ya, kenalin nich teman sekelasku Wawan” Suara mukti pelan sambil memperkenlkan ku.

Andre “ Tangannya keras dan meyakinkan. Seperti seorang penjabat tangan yang berada di pesta-pesta besar.

“ Dia tunanganku wan” Suara mukti seperti aroma racun yang hinggap di lidah.

“ Benarkah. Selamat ya!”

“ kami tunagan di Jakarta kebetulan Andre baru pulang dari Austria S2 spesialis Jantung” Ujar Mukti

“ Kalau ke Jakarta main ke Mampang ya!” Tawar Andre padaku

“ Terima kasih,,mas-Pa!” suaraku kaku.

“ Panggil Andre aja” Sambungnya menguatkan.” Persahabatan segalanya di banding semua umur”

“ Baik Pa! eh Andre” masih saja aku kaku.

“ Kamu jadikan masuk FSRD ITB?” Tanya mukti

“ Sedih muk!”

“ Kok bisa “

Aku lihat andre pura-pura membaca buku.

“ Waktu itu, aku ngambil ekonomi lemah. Sedangkan sadra ngambil jalur beasiswa. Tapi persyaratanya banyak banget Muk. Akhirnya pada tanggal 21 mei, hari rabu tepatnya. Aku kurang satu syarat, yaitu setruk gaji orang tua. Pak Toha nama petugas itu, mengingatkan kamu bisa nyusul hari sabtu aja katanya. Setelah hari sabtu tiba, aku mengunjungi gedung rektorat lagi. Pak toha menolak persyaratanku. Jadi aku tidak mengikuti ujian saringan masuk (USM).Percuma aku belajar skolastik, gambar dan psikotes analitik”

“ Jadi kamu tidak kuliah wa”

“ Ya, seperti itulah. Aku sekarang kerja di salah satu Pabrik”

“ Belum saatnya mungkin wan. Tahun depan kamu nyoba lagi” Mukti menasehati ku” Tuhan selalu punya rencana terindah”

“ Ya! Bukankah itu yang ku ucapkan ketika kita belajar bareng di taman Ganesha”

“ hehe,,,Seandainya”

“ Seandainya apa muk?” Tanyaku penasaran

“ Ah tidak! Oh ya aku harus pulang dulu wan”

Salam perpisahan terjadi. Kulit wanita itu halus, selembut angina segar tersimpan di angan. Andre berpaling padaku dengan ramah pula. “ Jaga mukti baik-baik”

Mukti berpaling padaku dengan senyuman dan sedikit matanya berkaca-kaca. Ternyata, angan itu tidak selamanya indah kawan!. Perlahan Mereka menjauh dariku, nampak pasangan serasi para calon dokter.

“ Lupakanlah, wanita tak hanya satu” Ucapku dalam hati.

Aku kembali menikmati sajian buku Gramedia. Tiba-tiba suara yang tidak asing memanggilku.

“ Wan…”

Aku palingkan ke sumber suara.

“ Mukti…” Ujarku “ ada apa Muk”

Dia mendekatiku.

“ Masuh ingatkah…!”

Dia mengeluarkan sebuah buku yang pernah jadi miliku.

“ Ini buku Biologimu. Maaf wan, aku lupa. Waktu kuliah semester satu buku ini sangat membantuku” Ucapnya “ Terima kasih. Ini uang tiga ribu rupiah. Dulu aku pernah pinjam buat photo copy Fisika pelajaran pak wondo”

“ hehe” Aku haru sekaligus ingin tertawa.

“ Terimalah, sebagai persahabatan abadi”

Selesai hari rabu tgl 4 februari 08.

2007

Nuansa alam bandung selatan, Patenggang 2007.situ patenggang

Potret pedalaman Bangkalan MADURA dan salah mushola

Dari Pedalaman Madura

“ Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan” ungkapan itu aku dengar ketika aku Sekolah SD. Ibu Eli guru SDku dulu yang selalu mengatakan kata itu di kala hari senin tiba. Kalau hari sabtunya beliau selalu mengatakan “ Tahukah engkau anakku, dulu Bung karno pernah berbicara, berikan aku sepuluh Pemuda Indonesia kuat; maka aku akan menggertak dunia”. Ibu Eli memang sosok yang selalu kami kagumi dia laksana sumbernya Ilmu yang selalu mengalirkan semangat Kebangkitan kepada kami.

Delapan tahun lamanya aku tidak berjumpa dengan Ibu Eli, aku merindukannya;merindukan sahabatku, merindukan tanah madura yang menurut sebagian orang gersang dan terbelakang. Tapi bagiku madura adalah kebanggaan ku. Aku tinggal di desa kenari daerah pedalaman kabupaten Bangkalan. Daerah ini sangat subur dengan pertanian kalau di jawa barat, pedalaman kenari ini bias di sebut Cianjur selatannya Jawa Barat.

Mimpiku dulu aku ingin sekolah ke Belanda lewat Bandung, aku kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di kota ini. suatu prinsip hidup yang agak aneh,karena Bandung di jadikan suatu Jembatan, tapi itulah aku. Aku ingin memperlihatkan prinsipku pada dunia, melalui mimpi yang di ajarkan Ibu Eli tentang arti “ Apa ga salah jika orang kecil seperti kita bermimpi untuk sekolah ke Belanda” ujar ibu Eli dulu, “ Mereka ( Penjajah) telah merampas kehormatan kita selama 350 tahun, maka kalian generasi yang harus mendapatkan lagi kehormatan itu. Demi Ibu Agama, pertiwi, orang tua dan para pahlawan yang telah gugur.

Terima kasih Ibu Eli, aku akan terus mengenang jasamu. Semoga engkau mendapatkan tempat yang terbaik di sisinya dan semoga surga akan datang menjemputmu.

“ Sudah Jar! Pesawat sebentar lagi berangkat. Kamu persiapkan Visa, passport dan perlengkapan lainnya” Ujar Monita teman dekatku “ Biarlah Ibu Eli pergi dengan tenang. Beliau pasti tersenyum melihat muridnya yang sebentar lagi akan menjadi mahasiswa Amsterdam University

“ Terima kasih, Mon! “ Ujarku. Kenapa berita wafatnya guruku tidak sampai seminggu yang lalu, kenapa tadi pagi.

“ Sebetulnya aku ingin mengatakan sesuatu Mon ”

“ Ngomong apa gitu?” Tanya monita penasaran.

“ Bangkalan- Madura. Aku bangga dengan Pedalaman Bangkalan dari pada dengan Amsterdam. Jika kamu punya kesempatan waktu lagi, kamu main ke sana, kamu tulis sesuatu artikel Tentang Bangkalan. Aku berharap itu, aku ingin dunia tahu tentang Bangkalan. Jadikanlah itu sebagai kajian ilmiah atau sebual novel fiksi. Aku mohon, setelah aku pulang dari Belanda aku ingin bangkalan- Madura di kenal di Jawa.

“ Aku akan coba Jar! Aku bangga padamu, aku beruntung ada di sini mengantarkan kamu. Kamu masih maukan menungguku? “ Ujar Monita dengan mata berkaca-kaca.

“ Tentu, seriuskan kuliah kamu. Setahun lagi kamu Lulus di Fakultas Kedokteran Gigi. Habis itu kamu cari beasiswa S2. di Belanda,aku tunggu di Amsterdam”.

Pesawat Garuda Boeng 778 rute penerbangan Jakarta- Frankurt segera berangkat. Kepada para penumpang segera untuk memasuki area

“ Ok. Mon aku akan berangkat ”.

“ Hati-hati. Telpon aku kalau sampai sana, jangan lupa kirim aku E-mail seminggu atau sebulan sekali”. Ujarnya sambil memeluk tubuhku. Baru kali ini dia memeluk tubuhku sedemikian lamanya, matanya mengisyaratkan rasa, kelembutan tubuhnya menghembuskan aroma nafas yang tak dapat di uraikan dengan kata-kata.

Aku berjalan memasuki Bis bandara untuk menuju pesawat garuda. Lembaian tangannya menendakan salam perpisahan teramat.

“ Semoga kita berjumpa lagi Jar!” Teriaknya. Senyumannya semakin lama, semakin menghilang dari pandangan.

Selamat datang negri baru, bahasa baru dan sesuatu yang belum pernah aku temukan. Disana adalah samudra ilmu dan pengalaman, berbagai watak manusia akan aku hadapi. Aku akan hidup dalam keterasingan, dan dengan keasingan itu aku akan menemukan prinsip Ibu Eli dengan kesederhanaannya. Suatu filosofi indah dari seorang anak manusia.


Madura dan laut selat

Tanjung Perak Surabaya

Cinta di atas cinta

Cinta di atas cinta

Seperti tak pernah lelah burung itu bersabda; hampir setiap pagi ketika aku terbangun, rasanya mereka selalu tersenyum dalam menjalani kisah hidupnya sebagai seekor burung yang merindukan cinta yang telah lama hilang. Kicauannya adalah nyanyian kehidupan yang bercerita arti cinta sejati.

Udara pagi ini benar-benar dingin, menyusuri tulang-tulang sum-sumku dan rasanya aku perlu sedikit hembusan asap rokok dan kopi panas yang di sajikan ibuku di pagi hari. Tapi itu dulu, sekarang aku hidup dalam kesendirian. Ibuku meninggal setahun yang lalu, ayahku entah kemana?.

Aku selalu ingat pesan Ibuku “ Agam kamu ingat ya, untuk belajar dan jangan lupa sholat”. Hampir setiap bangun pagi aku selalu di ingatkan itu. Hanya suara itu yang bisa aku lakukan ketika aku rindu ibu. Untung saja setiap Ibu nggomel;dulu aku selalu merekam nasehatnya di HP ku, karena saking kesalnya aku selalu memutarnya ketika ada pertemuan keluarga, dan setelah semua anggota mendengar omelan melalaui HP ku kami semua tertawa. Sungguh suatu yang tak dapat di sangka tahun ini aku kehilangan ibu.

.

Ada pesan masuk di Hpku “ Siapa ya?”

Jngan lupa jemput aku di sekolah Jam satu”

Cinta

Aku selalu tertawa kalau melihat cewe ini, pacarku yang selalu pingin di manja dan di perhatikan layaknya seorang ratu dari kerajaan mimpi. Ya !sudahlah aku balas.

Cin! Pesawatnya ga ada Cuma ada becak ga apa ya?maklum pengangguran..he”

Beberapa menit kemudian

“Knapa ga pakai mobilku aja,”

Aku balas lagi

Maksudnya, aku harus ke rumah loe, ntar aku di omelin bokap loe krena aku pengngguran”

Aku kadang tidak habis piker; apa yang membuat Cinta mau menerima aku, padahal aku ini seorang pengangguran yang selalu jadi bahan pembicaraan Ibu-ibu arisan di samping kosan ku.

Pernah suatu ketika ketika ada rapat arisan di dekat kosanku..

“ Bu Puri, siapa yang ngontrak di kosannya Ibu?” Tanya salah seorang Ibu-ibu anggota arisan

“ Nak Agam, memangnya kenapa gitu bu? “ Ujar Ibu Puri pemilik kosanku.

Gak saya hanya kesal aja kerjaannya itu membaca, padahal dia kan bukan mahasiswa”.

Gak apa-apa atuh bu, yang penting dia bayar aja perbulan”. Sahut Ibu Puri sambil tertawa “ Sudah ah, jangan ngomongin si Agam kasihan dia anak sebatang kara”

Tiba – tiba ada pesan Baru lagi.

Kalaubegitu temani aku nonton hari ini. Tunggu aku di tempat biasa”

***

Aku menunggu di depan taman lalu lintas, sambil merasakan udara segar dari pohon –pohon peninggalan bangsa belanda. Jika di lihat dari jauh SMA itu kelihatan angker, tapi yang aku salut dari Cinta adalah sosok cwe mandiri, dewasa dan bertalenta tinggi. Terbukti dengan tanggapannya ketika aku ajak jualan kupat tahu dia begitu antusias.

“ Bener Gam, cari duit itu susah ya? “ Ujarnya waktu itu

“ Makanya, jangan boros” Ujarku

“ Tapi tabungan dari Papah ku masih banyak.”

“ Ya, simpan aja! Buat kuliah tahun depan”.

“ Iya deh, aku akan tabung dan tak akan hidup boros lagi” Ujarnya bangga.

***

Dari sebrang jalan itu, terlihat seseorang yang sedang berjalan mendekatiku. Semakin dekat aura wajah blesteran Indo- Belanda itu semakin jelas dengan mengisyaratkan rasa. Sungguh mahluk yang di ciptakan dari tulang rusuk pendahuluku

“ Hmn…Tumben nunggu biasanya juga di tunggu” Ujarnya

“ Ya! kalau untuk ratu harus selalu tepat waktu dan disiplin, bukanya begitu!” Seru ku “ Oh ya Cin! Keterima di kelas 3 apa?”

“ 3 IPA 1. Makanya aku sekarang lagi happy nich”.

“ Wah selamat ya, Kamu memang pintar. he..he”

“ Siapa dulu. Jika bukan Cinta siapa lagi yang bisa bersaing”. Ungkapnya dengan nada tinggi sambil ketawa.

Aku bangga bisa menemaninya kemana dia pergi, aku menaruh rasa hormat karena kepintaran dan kedewasaannya, tapi terkadang aku merasa gemes ketika melihat egonya yang seperti anak TK. Begitulah mungkin seorang sosok waanita yang pernah aku kenal.

“ Kenapa diam aja?. Gak suka ya! Melihat aku bahagia”.

“ Maafkan aku Cin, sebetulnya aku ingin ngomong”.

“ Ngomong apaan? oh ya aku belum ada kesempatan. Untuk dagang kupat di mobil, yang dulu pernah kita lakukan..sorry bangett!”.

“ Bukan itu yang aku maksud, aku merasa aku tidak pantas untuk kamu Cin, tahu sendirikan! aku pengangguran, dan setiap aku ke rumah kamu; Bokap loe pasti ngomelin aku. Memang benar menurut bokap loe Aku harus ngaca”. Ujarku “ Jika hidup ini barometernya duit, maka orang kecil seperti aku hanya bisa bermimpi untuk mendapatkan sesuatu yang indah.

“ Jangan ngomong kaya gitu dong”.

“ Tapi Cin, aku benar-benar malu..Hari ini kamu ngajak nonton,,tapi aku gak punya duit untuk tiketnya. Sudah berapa kali kamu teraktir aku..”

“ Udah jangan pikirkan…tabunganku masih banyak..ok lah aku Bantu supaya kamu dapat kerjaan…tapi janji jangan tinggalin aku”. Ujar Cinta dengan senyuman manis di bibirnya.

“ Terima kasih Cin. Aku tak akan melupakan kebaikanmu”

“ Ayo kita jalan”. Sambungnya

Suasana taman lalu lintas semakin ramai di kunjungi anak-anak. Aku berjalan mengitari taman itu kearah Bandung Istana Plaza salah satu Bioskop yang cukup popular di kota Bandung. Terkadang aku bahagia ketika Cinta di sisiku, tapi aku tidak bisa untuk terus seperti ini. Aku telah melupakan pesan dari ibu, aku telah melupakan pesan ahlak dari guru ngajiku.Tentang larangan laki-laki dan perempuan. Tapi mudah-mudahan pintu hidayah itu masih ada.

Cinta memegangi tangan ku dengan eratb dan tubuhnya mendekati tubuhku, seperti layaknya seorang kekasih yang merindukan cinta. Sebetulnya hatiku tidak mengijinkan untuk menyentuh tangannya. Tapi aku berharap ada saat kesempatan untuk menjelaskan arti Cinta sebenarnya.

***

Mentari pagi selalu menyinari bumi, tak pernahlelah dia melakukan titah sang pencipta untuk menyinari alam semesta. ketika malam datang dia menyinari bagian bumi lain. Sungguh sesuatu yang setia dan Penuh pesona, karena keteguhan melaksanakan tugas dari Tuhan.

Jika kepatuhan manusia layaknya matahari yang tak pernah lelah menerangi jagad ini, mungkin tak akan ada pernah ada nuklir yang menghancurkan, merusak dan menjatuhkan air mata nyawa yang tak berdosa.

“ Nak agam ada yang mencari nak Agam!” Seru Bu Puri

“ Siapa Bu? “ Tanyaku

“ Temannya katanya”

“ Suruh masuk kamarku aja, tanggung bu lagi di kamar mandi” Ujarku, Siapa pagi-pagi begini?.

“ Mandi nich, dari dalam kamarku. Kok suara wanita.” Ujarku Penasaran “ Eh loe Cin, dari mana pagi-pagi kaya gini?”

“ Kita lari pagi yu!”

“ Kemana ?”

“ Sabuga “

“ Oh ya Cin, bisa di luar dulu ga? soalnya aku mau di baju dulu” Pintaku. Kenapa aku memperbolehkan wanita masuk kamarku? Kenapa lagi Bu puri mempersilahkannya padahal yang datang wanita;apa bu puri ga bisa ngebeda’in wanita dan pria. Entahlah.

Dah belum cepat dong?” Sahutnya dari luar.

“ Sudah. Yu kita berangkat”.

***

Kemegahan arena olahraga ini, merupakan ciri dari almamater Institut Teknologi Bandung. Suatu perguruan tinggi paling bergengsi di kota ini. Hari minggu memang suka di datangi orang arena ini, di mulai dari main bola, lari, jogging sampai hanya sekedar menghirup udara pagi di tempat ini.

“ Yu! Kita lari gam” Ujar cinta penuh semangat. Kami mengitari pinggir lapangan sepak bola.

Kenapa aku jadi ingat pada ibu ya? Sepertinya dia hadir disini, dan memberikan nasehat sebelum tidurku. Oh Tuhan perkenankanlah suatu saat aku di pertemukan kembali dalam kasih sayang dan cintamu.

“ Kok dari tadi diam aja sich! “ ujar Cinta “ kamu lagi sakit Gam? “

“ Ga, ayo kita lari lagi”

“ Ayo! “. Begitu semangatnya Cinta berlari dan tak tarasa kami sudah mengelilingi lebih dari delapan kali arena olahraga ini.

“ Kita istirahat dulu Gam? “ Pinta Cinta sambil berjalan kea rah tempat duduk di sebelah selatan Sabuga. Kami duduk sambil melihat mentari pagi yang akan menyinari Bumi. Suasana tenang dan damai kami rasakan bersama.

“ Gam, aku punya kabar gembira”

“ Berita apaan?”

“ Papah membolehkan aku pacaran dengan kamu, tapi aku ada berita lagi”

“ Apa lagi?”

“ Seminggu lagi aku pindah sekolah. Ayah ingin aku mendapatkan Ijazah di Thomas Jafferson senior High School London.”

“ Ya, syukurlah. Mumpung masih muda”

“ Tapi aku takut kehilangan kamu Gam” Ujar Cinta penuh harap.

“ Cin, sesungguhnya aku juga ingin ngomong sesuatu”.

“ Ngomong apa?” Ujarnya penasaran.

“ Cinta. Kesejatian Cinta tak dapat di ukur dengan wujud, tapi dengan nurani dan kesucian. Kamu tahu islam, ajaran indah tentang ahlak. Ajaran yang berserita tentang kesempurnaan cinta. Aku belun bisa melakukannya, tapi aku berharap bisa. Tidak ada ketakutan jika kita paham ini” ujarku panjang. Cinta terdiam sejenak dan sedikit matanya berkaca-kaca.

“ Ajari aku tentang cinta itu Gam, aku ingin mendapatkan cinta itu. Cinta kebahagian sejati!”

“ Tidak semua orang tahu. Kamu tahu wanita muslim yang memakai jilbab. Sebenarnya dia bukan terbelakang mode, tapi dia menjaga kesucian sejati. Banyak godaan untuk mendapatkan semua itu. Aku belum bisa, tapi aku mencoba”

“ Apa menurut kamu aku bisa melakukannya, terlalu banyak kesalahan yang aku perbuat?”

“ Bisa, asal ada usaha. Sepanjang kita masih bisa menghirup udara pagi”.

Kami terdiam, di antara megahnya mentari pagi yang semakin panas. Hidup ini memang tak ada yang sempurna; bahkan ketika kita terjatuh ada satu jalan untuk kembali berjalan kea rah yang lebih baik.

“ Baiklah akan ku coba Gam, demi cinta sejati yang selalu melahirkan kedamaian” Sahut Cinta sambil mengusap air mata di pipinya, yang tak terasa mengalir. “ Tolong belikan aku Jilbab sebelum aku ke London”.

Contemplate

Contemplate

Ketakutan yang hinggap dalam diri

Karena dunia yang menggelapkan

Banyak pertanyaan yang tak terjawab

Hanya waktu yang mampu

Tak terasa kelahiran pun menjauh

Sementara dia pun semakin mendekat

Aku selalu diam dan belum berbuat apa-apa

Kesempatan pun mulai menjauh

Kisah anak manusia yang penuh dengan harapan

Dia ingin menulis dalam kehidupan

Meniti jalan dan akan selalu ada hambatan

Itulah dunia

Dia mencoba mengambil dan menulis

Dan tak seorang bisa

Hanya menunggu keajaiban yang belum pernah datang

Kisah itu di mulai dan berakhir

Terkadang tertipu, terfana dan terpesona

Aku mencoba untuk bersabar

Menunggu kebahagiaan yang abadi dan lebih

Hanya orang-orang terpilih yang bisa

SATU

SATU

Ada mimpi yang terjadi

Mengarungi samudera yang terhampar

Melewati ruang dan waktu

Menusukkan cinta yang tertipu

Adakah keistimawaan dalam diri ini!

Hanya kotoran dan kebodohan yang ku punya

Bersujud di hadapan-Mu oh… Rabb

Meminta lentera dalam meniti lembaran hari

Suatu kebiasan & kepalsuan yang menimpa hari ini

Tentang cinta yang salah untuk di definisikan

Tentang saudara-saudaraku yang tertusuk panahnya

Dia terlena menjerit & bahagia dalam kepalsuan dunia

Akankah diriku jadi sasaran berikutnya

Mengambil jiwaku terbang dalam redupnya kehidupan

Tak punya kekuatan & tempat untuk bersembunyi

Dan semuanya hampir tertusuk dan hampa

Ya.. Rabb! Dalam khilafku aku memohon

Tentang ketakberdayaanku dan lemahku

Untuk menemukan cahaya yang hampir padam

Meski bagai menggenggam bara api

Di tengah gulitanya malam.

CERITA DARI TEMPAT YANG AKU SINGGAHI

CERITA DARI TEMPAT YANG AKU SINGGAHI

Bau asap terminal yang menyesakan nafas, meracuni impian yang melelehkan suatu harapan. Panas terasa panas, memunculkan keringat di iringi semangat yang membakar. Terkadang menyusut di bawa debu-debu terminal yang bertabrakan dengan cita-cita yang tinggi. Meskipun setiap hari rumus-rumus kimia, fisika matematika menari-nari di mataku.

Dua tahun yang lalu aku di sini mendengarkan karya-karya jalanan yang biasa nempel di telinga, menggigit, memupuk, dan terkadang meneteskan air mata karena terharu. Jalanan itulah tempat tinggal mereka, tempat berkumpul mereka sekaligus Universitas kehidupan mereka. Tertawa, menangis, kelaparan dan semua luka ada di tangannya. Apa sih, istimewa dari jalanan, sehingga melahirkan orang – orang besar. Hanya harapan dan angan ada di tangan mereka.

Selamat tinggal masa STM, engkau lah bahan bakarku hari ini. Ketika aku harus merasakan defresi hidup, maka aku akan selalu mengenangmu. Hidup itu tidak semudah apa yang di bayangkan hari itu.

Kembali menggema nyanyian itu, menusuk hati, menikam intelek dan memaparkan dalam kesederhanaan. Unjukan matamu untuk menganjukan jempol karya mereka.

Panas kembali panas membakar otak hingga tulang sum-sum belakang.

“ Wah gimananya, Fisika Dasar susah euy. Kaya nya aku tidak ada cupat untuk belajari fisika”. Ujar Maryono

“ Santai aja bro! Kita pasti bisa kita di lahirkan untuk belajari itu. Pertanyaannya bagaimana kita dapat melajari Ilmu itu dengan nikmat, tidak jauh beda seperti kopi yang kita minum di pagi hari,he..”. Kami tertawa ria dalam filsafat hidup yang melelehkan.

“ Kawan, mentari pagi besok menunggu kita. Jangan lupa bawa gitar bolong dan harmonica. Kita konser di bis Damri besok”. Ujar Tono temanku yang jago fisika “ Kita kombinasikan Science itu ke dalam hamparan Jalanan yang menjadi sarapan pagi kita” Ujarnya lagi.

Aku bangga punya sahabat seperti mereka, berjalan dalam kepastian menunggu matahari terbit; meski hanya terminal tempat kami berteduh .

“ Kita adalah sahabat. Makan gak makan kita harus tetap kumpul dan tertawa. ” Ujarku

***

Cerita singkat di atas, di ambil dari terminal yang pernah aku singgahi dan sahabat yang telah menghilang tanpa kabar,

Salamku pada Erik di Juanda JAKPUS, pada tomi di terminal lebak bulus, Mba Reza di Teknik IndustriTrisakti 2003, Esti di BEJ, Jesica di Busway, Bayu di FKG UI, Bayu di HI nya Al-azhar Kristin di Bandara kapan main ke Indonesia? Gimana study kedokterannya, dan sahabat2 ku di Mampang prapatan. Semoga suatu saat kita Jumpa lagi.

Secuil, Hari Kebangkitan Nasional

Di sini aku merasakan hausnya kehidupan

Karena tantangan zaman yang selalu menggoda Ibu pertiwi

Semuanya menangis

Tak ada tawa, seperti ketika proklamasi di bacakan

Aku tertegun, kecewa dan meresa kehilangan

Maafkanlah aku Ibu pertiwi

Aku tak bisa membuat engkau tersenyum seperti dulu kala

Meski seperti itu

Aku bangga di sini, bernyanyi bersama bintang-bintang yang hampir padam

Aku ingin engkau ada seribu tahun lagi

Oh… negriku

Bagimu untuk kami semua

Strategi Hidup tenang, aman dan nyaman

Setiap orang mendambakan hidup tenang, aman, nyaman dan damai. Adalah sesuatu yang kelihatan mudah tapi tidak setiap orang dapat merasakan hal tersebut. Ada beberapa poin penting dalam mencapai itu, di sini saya akan mencoba menceritakan sedikit pengalaman yang mudah-mudahan menjadi inspirasi.

Sekitar sebulan yang lalu saya siraturahmi ke salah seorang guru ngaji, tadak di sangka-sangka di rumah guru ngaji itu saya di jamu sedemikian istimewanya. Padahal, saya hanya memakai celana jean dan kaos oblong. Beberapa saat kemudian istrinya datang membawa sepiring makanan ringan. Keluarga guru ngaji itu sederhana, namun penuh kedamaian.

” Nak, kemana aja kamu jarang kelihatan?” Ujar guru itu.

” Iya, pak. nyari-nyari pekerjaan atau wirausaha ” Jawabku pendek.

” Benar Nak, jaman sekarang itu nyari pekerjaan adalah sesuatu yang amat susah, makanya di perlukan keahlian supaya kita bersaing di era global ini. Ada beberapa hal yang harus di teguhkan dalam menghadapi kenyataan hidup ini.

1. Jadikan sholat lima waktu kamu sebagai pengukuh semangat krtika kamu malas. Intinya jadikan sholat sebagai kebutuhan bukan kewajiban, dan yang terpenting sholat berusaha untuk tepat waktu, berjamaah dan di masjid.

2. Kita harus mengubah definisi sukses. Sukses itu bukan hasil tapi proses, dan jangan jadikan duit sebagai barometer sukses tersebut. Coba kamu renungkan kata-kata ini ” Jangan senang dengan sesuatu yang tidak senang, dan tidak senang sesuatu yang harus senang”. Juga, hadirkanlah Tuhan di setiap langkah kita. Jangan takut dengan kegagalan, hadapi hidup ini dengan senyuman. Tertawalah ketika kamu merasakan pahitnya kehidupan, hidup itu indah dan lebih indah dari sepotong kue yang di sajikan setiap pagi.

Ketika itu, saya renungkan arti semua yang di ceritakan guru ngaji itu. Awalnya biasa-biasa saja, tapi setelah di renungkan ternyata maknanya dalam, lebih dalam dari samudra hindia yang tertera di antara lautan dan daratan. Terima kasih guru kehidupanku, suatu filosopi hidup yang sederhana, namun berarti.

SELEKSI PENERIMAAN MAHASISWA BARU (SPMB)

SELEKSI PENERIMAAN MAHASISWA BARU (SPMB)

Pada tahun 2008, ITB tetap menerima mahasiswa baru melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). SPMB merupakan sistem ujian saringan masuk perguruan tinggi negeri yang dilaksanakan secara nasional, oleh sebuah panitia terpusat di Jakarta, berdasarkan mandat yang diberikan oleh Paguyuban Rektor Universitas Negeri Seluruh Indonesia. Mekanisme ini akan dilaksanakan pada bulan Juli 2008. Tujuan pelaksanaan SPMB adalah untuk memilih calon mahasiswa baru yang mempunyai kemampuan akademik untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan. SPMB tidak mengurangi wewenang masing-masing perguruan tinggi untuk melaksanakan seleksi sendiri. Seleksi dilakukan dengan pola ujian tertulis.

SPMB dilaksanakan di kota-kota dimana Perguruan Tinggi Negeri berada dan di kota-kota lain yang dianggap strategis oleh Panitia Pelaksana. Seleksi ujian tersebut menggunakan soal yang sama atau setara. Peserta ujian disarankan untuk memilih tempat ujian yang paling dekat dengan tempat tinggalnya.Tempat ujian tidak menjadi bahan pertimbangan dalam proses seleksi calon mahasiswa.

Proses seleksi dilakukan secara terpusat. Semua peserta SPMB diurutkan menurut nilai ujiannya, kemudian dialokasikan pada program studi pilihannya, dengan ketentuan bahwa peserta yang lebih baik mendapat prioritas untuk dialokasikan lebih dahulu. Materi ujian SPMB pada umumnya ditujukan untuk menguji kemampuan kognitif dan kemampuan akademik calon mahasiswa.

Pada tahun ini, ITB akan menerima sekitar 55% dari total seluruh mahasiswa baru ITB 2008, melalui SPMB 2008. Informasi mengenai jalur seleksi mahasiswa baru ITB selain SPMB, dapat diperoleh di situs USM-ITB 2008.

Keterangan lebih lanjut mengenai SPMB 2008, dapat diperoleh di alamat berikut :

 

Panitia SPMB Pusat

Jl. Salemba Raya no. 4 Jakarta Pusat

http://www.spmb.or.id

« Entri lama